Hak Asuh Anak Setelah Perceraian: Siapa yang Lebih Berhak?
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Salah satu persoalan yang sering muncul dalam perkara perceraian adalah penentuan hak asuh anak. Tidak sedikit orang tua yang menganggap bahwa hak asuh otomatis menjadi milik pihak yang mengajukan gugatan atau pihak yang memiliki penghasilan lebih tinggi. Anggapan tersebut tidak selalu benar.
Apa yang Menjadi Pertimbangan dalam Hak Asuh Anak?
Penentuan pengasuhan bergantung pada hukum yang berlaku, usia anak, keadaan konkret keluarga, dan kepentingan terbaik bagi anak. Dalam perkara keluarga Muslim, Kompilasi Hukum Islam mengatur ketentuan pemeliharaan anak, termasuk Pasal 105 mengenai anak yang belum mumayyiz dan anak yang sudah mumayyiz.
Namun, penerapannya tetap harus memperhatikan fakta perkara dan ketentuan hukum terkait. Hakim tidak semestinya hanya mempertimbangkan keinginan salah satu orang tua tanpa memperhatikan kesejahteraan anak.
Bagaimana dengan Nafkah Anak?
Perceraian tidak menghapus tanggung jawab orang tua terhadap kebutuhan anak. Biaya hidup, pendidikan, kesehatan, dan kebutuhan lainnya perlu diperhatikan sesuai ketentuan hukum dan keadaan masing-masing keluarga.
Kesimpulan
Dalam sengketa hak asuh, fokus utama bukanlah siapa yang menang atau kalah, melainkan bagaimana memastikan anak memperoleh pengasuhan, perlindungan, dan kehidupan yang layak setelah orang tuanya berpisah.
